Resensi Buku: Roman People
Roman People, 3rd edition
Robert B. Kebric
University of Louisville
Mayfield Publishing Company
Mountain View, California
2001
An interesting book on history of The Roman City-Republic-Empire. What makes it different from history lessons during junior or senior high school is it mostly tells about daily life in Rome from time to time, which is not a favorite theme for a school history books. It also doesn’t laden its reader with long list of dates and important event that might be asked in examination, while leaving you frustrated in figuring out which part of the 2cm thick book will comes out in fifty or so question. Most likely because this book was written for more readers that read the book due to simple curiosity rather than having his/her teacher made him/her do so.
The book was written chronologically from the humble beginning of the small village that will eventually become Rome, the greatest empire the Western world ever have into its dwindling days where Romans can only dreams of its ‘glory old days’.
This book is about people, some famous some just ordinary, well ordinary rich since only rich ones are able to made sculptured tombstone or large houses and villas made of stone and other materials. Poor ones leave little traces, really. Its about Caesar and Cleopatra but it’s also about Claudia Severa’s invitation for birthday party to one of her friends in the Roman frontier of England. This book is as much about Rome as its about Constantinople , the last stronghold of Roman Empire, and the ill-fated Pompeii which turns out to be one of the best gift archeologist could ever asked .
Its about a child asking his father for his unreceived income. It’s about live time achievement of Roman horse racer. Its about Plinny and his beloved villa. It’s about Romans and their lasting love on bath. Its about always-on-the-verge-of-fire city of Rome with its crowded street and numerous temples. Its about rickety amphitheater arena of Atillus the Fight-Promoter which collapsed, kill 20,000 peoples and injuring 30,00 others. An unforgettable incidence that gives Romans their law of minimum amount of money owned before being allowed to build an amphitheater.
I decided to read this book mostly due to its colorful cover, its flimsy shining paper, and because its new. And you don’t get a lot of new books in ITB Central Library, well at least the one that makes me want to read it. The other reason is because I like history, more precisely I like story. A story will take me into new world with its peoples and places, their live, dreams, and struggle. Looking at new scenery through strung words. Listening to the music of the paper. Standing in front of bustling market or bazaar through the window of printed letters. Its interesting, really.

Kereta Terakhir Hari Ini
Sunday, March 15, 2009
10:07 PM
Gemuruh angin membelah malam ketika serangkaian kereta disel bergerak pasti menyusuri kegelapan dan membanjirinya dengan sinar lampu kekuningan dari jendela-jendela serta pintu-pintu yang kini tertutup rapat. Sedikit orang yang ada dalam lima gerbong bersambungan tanpa masinis itu diam dalam keheningan yang tersisa ditengah-tengah gemelentang ritmik yang memenuhi isi gerbong. Sebagian tertidur, sebagian setengah tidur, sebagian pura-pura tidur, lainnya duduk diam sembar isi kepala mereka berisik memikirkan apa yang telah dan akan mereka alami sepanjang hari dan sisanya yang tinggal tiga jam lagi ini.
Hari Senin yang penuh kesibukan sudah tertelan jalannya waktu meninggalkan tubuh-tubuh kelelahan yang rindu kehangatan rumah dan tempat tidur mereka masing-masing. Yah, setidaknya itulah yang aku doakan bagi mereka, sebuah tempat hangat untuk beristirahat sebentar tuk menghadapi hari Selasa yang akan segera menghampiri dua-jam tiga-lima-puluh-sembilan menit lagi beserta segala kesibukan baru yang akan menghampiri jiwa-jiwa yang kesadarannya kini ada di ambang batas sebelum kelelahan benar-benar mengambil alih tubuh dan pikiran mereka.
Seorang kakek mengangguk-angguk di atas bangku plastik keras warna merah yang berjejer menempel ke dinding gerbong. Anggukan teratur mengikuti getar-getar kereta tiap kali roda besinya melindas sambungan rel. Anggukan tanda setengah tertidur, bukan mengerti. Pada jam seperti ini, semua mendapatkan tempat duduk masing-masing. Kini rasio bangku banding penumpang di gerbong lebih dari satu, berlawanan dengan kondisi pagi serta malam yang hanya nol koma nol sekian.
Bulan setengah bersinar temaram ketika rangkaian kereta menjauh dari tepian kota melintasi sawah serta kebun yang semakin hari makin menyempit. Tentunya meski katak serta serangga bernyanyi riuh rendah di luar suaranya tidak sampai ke dalam gerbong, tenggelam dalam semua bunyi-bunyi logam berderak yang terdengar lantang pada malam-malam seperti ini.
Kereta terakhir untuk sehari ini yang berjalan pasti menuju terminal terakhir, diisi orang-orang terakhir yang meninggalkan tempat kerja mereka, sampai terakhir ke rumah-rumah mereka, dan terakhir mematikan lampu kamar-kamar mereka menuju tidur yang menjadi kali terakhir bagi sebagian dari mereka. Meski esok masih kan datang selama Dia berkehendak, mari kita tinggalkan mereka dalam kedamaian eratnya selimut decit dan derak logam, dalam kedamaian nyanyian riuh rendah para katak dan serangga, dalam kedamaian eratnya pelukan malam yang menyelimuti segala, dalam kedamaian sinar rembulan yang sayup-sayup memberi penerangan bagi kereta terakhir hari ini.
Diiringi lagu lembut Tsuki to Hashiri Nagara, No Fear-Aisurukoto, serta Unison dari Maaya Sakamoto beserta bayangan kereta berwarna logam yang mengkilat.
di suatu siang hari libur ketika semua orang tak ada di rumah
Selembar daun rumput yang bergoyang pelan menangkap perhatianku. Ia berdiri tegak menantang mentari tepat di dekat dinding pagar rumahku. Tidak, daun itu lebar, telapak tanganku jauh lebih lebar darinya, tapi ya, dia lebih lebar dari kancing bajuku yang lepas kemarin ketika berdesak-desakan didalam kereta.
Di bawahnya hanya tersisa sedikit cahaya sehingga yang nampak hanyalah kegelapan. Tidak segelap awan hujan memang tapi cukup untuk menyembunyikan sesosok…entah apa itu. Bentuknya kecil sebesar biskuit yang biasa kusantap. Ada yang berkilatan di bagian yang nampaknya bagian depannya. Hmm…kalau benda ini hewan, kilatan itu tentu matanya. Kalau bukan?
Siluet benda itu menarik perhatian. Garis hitam yang membatasi gelap yang gelap dengan gelap yang sedikit terang itu berbentuk mangkuk terbalik. Tapi mataku dapat meraba adanya tombak-tombak kecil di sini dan di sana.
Wah, ini menarik. Mungkinkah aku tengah berhadapan dengan benda angkasa luar? Benda mekanis yang dikirimkan para penembus galaksi untuk menyelidiki bulatan biru yang mengambang di sekitar bintang kecil yang letaknya jauh di sudut alam semesta sana. Dan jauh entah dimana di dalam kegelapan yang lebih gelap dan kegelapan yang menyelimuti benda yang ada di bawah sehelai daun rumput ini mereka duduk dan memfokuskan seluruh pikiran mereka pada sinyal yang dikirimkan benda ini. Sinyal yang berisi gambar wajah penasaranku dengan seluruh mata, rambut, hidung, dan telinganya.
Jika demikian adanya apa yang harus kulakukan? Haruskah aku merapatkan telunjuk dan jari tengahku serta kelingking dengan jari manis serta melambai pelan? Apakah mereka mengerti maksud baik ku? Ataukah mereka akan menanggapnya sebagai penghinaan besar hingga jauh di masa depan wajahku akan tampil di buku sejarah sebagai orang yang memicu kehancuran makhluk bernama manusia? Yah, setidaknya aku tercatat dalam sejarah.